Makna Percaya Diri


Kepercayaan Diri sejati tidak ada kaitannya dengan kehidupan lahiriah Anda. Percaya Diri terbentuk bukanlah dari apa yang Anda perbuat, namun dari keyakinan diri, bahwa yang Anda hasilkan memang berada dalam batas-batas kemampuan dan keinginan pribadi diri Anda. (Barbara De Angelis, Ph.D.)
Pernahkan Anda sebagai salah seorang Eksekutif/Pemimpin “merasa tidak percaya diri” (terhadap diri Anda sendiri?) untuk menghadapi diri pribadi, keluarga, pekerjaan Anda dan kehidupan ini? Setiap individu, termasuk didalamnya adalah Anda, tidaklah sterile dari persoalan hidup dan pekerjaan. Setiap persoalan yang dialami harus diatasi, dan bukannya dibiarkan berlalu begitu saja, seolah-olah akan terselesaikan dengan sendirinya. Untuk mengatasi hal diatas, Anda memerlukan: Sikap Optimis dan Rasa Percaya Diri (yang tinggi).

Sebagai ilustrasi, klien kami, seorang Pengusaha rumah makan “kelas pinggir jalan alias warung tenda” yang nyaris bangkrut karena sepinya pengunjung, namun dengan rasa optimis ia menyebarkan brosur dan melalui lidah-bibirnya, untuk mempromosikan menu unggulan dari rumah makannya. Setelah 3 (tiga) hari belum ada satu orang pun yang datang, maka ia pun dipenuhi dengan rasa kecewa yang dalam pulang ke rumah. Setelah tiba dirumah, tiba-tiba ia mendapat telepon (yang ternyata) dari seorang wartawan sebuah majalah yang telah membaca brosur tersebut dan hendak mewawancarainya. Setelah hari itu, usahanya mulai diperhatikan orang dan akhirnya maju. Kisah ini menunjukkan bahwa rasa percaya diri dan sifat optimis menjadi hal yang penting untuk meraih kesuksesan dalam hidup kita. Kata seorang bijak, “Kepercayaan diri adalah rahasia pertama dari kesuksesan”.

Secara awam, istilah kepercayaan diri sering dikaitkan dengan keberanian seseorang untuk melakukan tindakan-tindakan tertentu, bukan hanya membawa resiko fisik, tetapi juga resiko-resiko sosial. Sedangkan menurut Breneche and Amich (1998) “Kepercayaan diri adalah suatu perasaan atau sikap yang tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain, karena telah merasa cukup aman dan tahu apa yang dibutuhkan dalam hidup!” Shrauger and Schohn (1995), mengatakan: “Kepercayaan diri adalah anggapan orang tentang kompetensi dan ketrampilan yang dimiliki seseorang serta kesanggupannya untuk menangani berbagai macam situasi”. Seseorang yang memiliki kepercayaan diri yang cukup akan dapat mengaktualisasikan potensi yang dimilikinya dengan yakin dan mantap.

Dapat disimpulkan bahwa kepercayaan diri terletak pada diri individu itu sendiri yang timbul karena sikap, cara pandang yang yakin akan kemampuan diri sendiri, yang timbul karena adanya sikap positif terhadap kemampuan diri pribadi. Dengan kepercayaan diri seorang individu akan dapat melangkah dengan pasti tanpa merasa canggung dalam lingkungannya serta tanpa memperbandingkan dirinya dengan orang lain. Kepercayaan diri berperan dalam memberikan semangat serta (me)motivasi seseorang untuk dapat bereaksi secara tepat terhadap tantangan dan kesempatan yang datang padanya maupun untuk merasakan berbagai kebahagiaan dalam hidupnya.

Kepercayaan diri dapat ditumbuhkan dengan cara antara lain: (1) Menciutkan angan-angan, (2) Membohongi diri sendiri mengenai apa yang benar-benar dibutuhkan dalam diri, (3) Mengerjakan sesuatu yang biasa-biasa saja, (4) Menghindari lingkungan atau situasi yang menantang, dan (5) Berkata “masa bodoh” pada diri sendiri. Seseorang yang terpaku pada rasa tidak percaya diri sering membuat orang tersebut merasa kurang aman, tidak memiliki keinginan untuk maju, tidak bahagia, dll. Goyahnya kepercayaan diri umumnya bersumber pada anggapan-anggapan tertentu yang menyebabkan kurangnya keberanian untuk bertindak. Kurangnya kepercayaan diri juga sering dipengaruhi oleh krisis-krisis dalam kehidupan yang membuat pikiran menjadi tidak terfokus, sehingga tidak mencapai apa yang telah direncanakan dan diharapkan.

Hal serupa diungkapkan oleh Natalia Setiawan, Kepala Bagian Pengembangan Sumber Daya Manusia, Yayasan Pendidikan Kristen Ketapang (YPKK). Beliau sering menemukan para calon pengajar, pada saat proses Rekrutmen, yang merasa tidak Percaya Diri dengan panggilannya sebagai guru, atau pada awalnya mereka menjalani pekerjaan sebagai pengajar adalah suatu hal yang “biasa-biasa” saja alias tidak “bergengsi dan berbobot” (Namun seiring berjalannya waktu, mereka akhirnya dapat mencintai dan menjadi bagian dari pekerjaan tersebut)

Pengalaman di lapangan dalam keseharian pekerjaan kami sebagai Konsultan Sumber Daya Manusia, pada saat kami melakukan wawancara para calon karyawan, dari berbagai strata pendidikan: baik SMU, Diploma maupun S1/S2, kebanyakan -mayoritas, lebih dari 60% – mempunyai output yang hampir sama yaitu: mereka yang tidak percaya diri dengan kemampuan yang dimiliki. Beberapa dari mereka pesimis tidak akan mendapat pekerjaan yang mereka inginkan, bahkan ada dari mereka yang tidak yakin akan diterima kerja hanya karena (maaf) memiliki tinggi badan yang tidak ideal. Hal ini sangat disayangkan karena rasa tidak percaya dirinya sudah sedemikian menguasainya sehingga lupa bahwa dirinya masih memiliki potensi lain yang lebih berarti dari fisiknya. Vince Lombardi mengatakan, “The quality of a person’s life will be determined by the depth of their commitment to excellence, no matter their chosen field!” Di lain pihak, terlalu percaya diri pun (kadang) tidak selamanya baik. Di satu sisi mereka optimis dan yakin dengan kemampuannya, namun di sisi lain mereka malah terlihat sombong, berlebihan, dan tidak peduli dengan pendapat orang lain di sekitarnya.

Untuk mencapai suatu kesuksesan, tidak cukup hanya rasa percaya diri saja tetapi juga harus disertai dengan motivasi, kemampuan dan kemauan yang kuat untuk mencapai kesuksesan tersebut. Seperti yang dikemukakan oleh Lanny Sariati, Finance & Accounting Manager yang juga merangkap sebagai HRD Manager PT. Marga Nusantara Jaya, dari group Konimex: “Untuk bisa mencapai kesuksesan tidak cukup hanya keyakinan dan rasa percaya diri serta motivasi yang tinggi saja, tetapi harus disertai dengan kemampuan untuk mencapainya!”

Prinsip untuk mengelola masalah secara positif:

Robert H. Schuller memberikan beberapa prinsip-prinsip dasar untuk membangkitkan rasa Percaya Diri dan bagaimana berusaha untuk mengelola setiap persoalan yang dihadapi secara positif, yaitu:

Jangan Menganggap Remeh.
Jangan meremehkan setiap persoalan yang sedang Anda hadapi.
Jangan Melebih-lebihkan.
Jangan pernah melebih-lebihkan suatu persoalan, karena hal tersebut tidak akan menyelesaikannya, tetapi malah akan memperburuk keadaan.
Jangan Menunggu.
Ada kalanya Anda bersabar setelah mencoba berbagai macam jalan keluar, tetapi terlalu bersabar bukanlah hal yang baik, karena dengan menunggu, persoalan yang sedang Anda hadapi tidak akan terselesaikan.
Jangan Memperparah.
Persoalan yang dihadapi bisa menjadi lebih baik atau menjadi lebih buruk, tergantung bagaimana Anda menyingkapinya. Karena Anda hanyalah sejauh dari Sikap Anda! Apabila dalam menghadapi persoalan diselesaikan dengan pikiran yang negatif, maka akan memperburuk keadaan dan bukannya menyelesaikan persoalan.
Berpikir Secara Bijaksana.
Berpikir bijaksana akan membantu menyelesaikan persoalan. Dengan memikirkan resiko pada saat memutuskan sesuatu, akan membuat seseorang lebih berhati-hati dalam memutuskan cara yang tepat untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
Tindakan
Bertindaklah (dengan sesegera dan secerdas mungkin) untuk mencari jalan keluar yang terbaik.
Umpan.
Gunakan cara-cara yang tepat untuk mencapai sasaran.
Solusi Alternatif.
Cari dan temukan, samapai berhasil, alternatif lain untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi.
Kini Abaikanlah!
Jangan “pernah” terpengaruh dengan masalah yang Anda hadapi. Keberhasilan dapat dicapai apabila memiliki sikap yang optimis dan penuh semangat.
Komunikasikan.
Tidak selamanya Anda, seolah seorang Superman, yang dapat menyelesaikan persoalannya secara sendiri! Ada saatnya Anda memerlukan bantuan dari orang lain untuk menyelesaikan masalahnya.
Kucilkan.
Bersikaplah peka terhadap hal-hal yang bersifat negatif, karena hal ini akan membantu menimbulkan pikiran-pikiran yang positif, sehingga apabila menghadapi persoalan dalam hidup dapat mengatasinya dan menyelesaikannya dengan baik.

Barbara De Angelis, dalam bukunya yang berjudul “Confidence Finding It and Living It” (Hay House, Inc., 1995) mengungkapkan beberapa hal yang dibutuhkan untuk meraih angan-angan dalam hidup ini, yang (sebenarnya) ada dalam diri Anda sendiri, yaitu:

Rasa percaya diri yang Anda rasakan, tak lebih dari ilusi, karena sebenarnya, Anda adalah titipan semesta yang sempurna dan mengagumkan. Kehebatan Anda sesungguhnya tidak dapat diukur.
Semakin dalam kecintaan Anda pada diri sendiri dan hidup ini, semakin dalam pula takwa Anda kepada Sang Maha Pencipta.
Semakin besar rasa syukur Anda atas karunia-NYA, semakin besar pula imbalan yang dapat Anda nikmati.
Itulah tujuan hidup Anda: untuk menjadi yang amat sangat menakjubkan, tepat sebagaimana Anda adanya.

Sebagai penutup, kami mengutip kalimat bijak filsuf John Wooden, “Seseorang yang sukses dan berhasil, adalah seseorang yang memberi perhatian, tenaga dan upaya kepada hal-hal yang IA DAPAT LAKUKAN dan bukannya seseorang yang menghabiskan waktu, pikiran, dan usaha kepada hal-hal yang IA TIDAK DAPAT LAKUKAN”. Itulah “kunci” rasa Percaya Diri!

Salam dan Sukses Selalu!
Penulis: Gunawan Winata & Lianita Suryanti
Managers’ Scope

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s